#TiaTripToSingapore We Finally Here! Part 3

I continue my journey to Chinatown soalnya mau ke Singapore City Gallery. Sementara MT decided to go back to hostle because she had stomachache. Jadi for the rest of the day I explore Singapore own my own. It doesn’t mean I don’t like company but exploring alone its definitely something. You can enjoying yourself and not worrying tentang nyusahin orang kalau misalnya nyasar. You have a free time. Oke so MT pulang dan aku lanjut lagi ke Singapore City Gallery di Chinatown. Karena kemarin udah berpengalam dari Chinatown, jadi udah lancar sampe ke Buddha Tooth Relic Temple, terus ngikutin google map sama penunjuk jalan, jeng-jeng ealah ternyata dikit lagi aku udah sampe ke Maxwell Food Center yang tujuanku kemarin. Haduh menyesal, kurang kesini dikit aja, eh udah menyerah. Pas jalan kesana, di sebelah kiri juga ada kayak ruko-ruko yang model lama gitu, keren sih model bangunannya, nah disitu juga ada 7eleven. Aku mampir kesana buat beli susu. Ngelanjutin jalan, tinggal belok kanan, jinx! Nyampe deh di Maxwell Food Center. Nah terus pas keluar dari Maxwell Food Center belok kiri langsung deh sampe ke Singapore City Gallery.

Singapore City Gallery tuh sebenernya aku jadwalin untuk aku datengin kemarin, tapi karena kelamaan di Universal Studio jadi terpaksa dilewati. Nah tapi dari ketiga museum yang aku daftarin untuk datengin, aku emang paling pengen ke Singapore City Gallery. Soalnya kalau yang Asia Civilization Museum (yang harusnya aku datengin di hari pertama, tapi gajadi karena nyasar di bandara) itukan dia tentang sejarah, altough orang-orang reviewnya bagus tapi kurang minat aja sama konteks isi museumnya, jadi ke-skippun aku gak masalah. Yang kedua Singapore Art Museum, yang akhirnya tak coret supaya aku bisa ke SG City Gallery, itukan jelas tentang seni. I like art, but kadang kalau too art juga kadang alah ya gitu deh art, jadi di skip aku oke-oke aja (Altough later pas liat di ig ternyata dalemnya bagus banget, menyesal tidak kesini). Kalau Singapore City Gallery emang yang paling pengen, selain tentang tech-nya yang futuristic gitu, juga karena aku kepo sama Singapore, gimana sih dia dulu, kok bisa sih jadi sebagus sekarang, dan gimana dia kedepannya.

In preparation time, aku tuh ngeliat kalau untuk masuk ke Singapore City Gallery perlu bayar S$6 kalau nggak S$8 gitu. Eh ternyata pas aku masuk ke City Gallerynya (di lantai 2), mereka gak minta aku untuk bayar, cuma nulis aja di buku tamu. I personally choose this place, because dari fotonya di Google, tempatnya kayak futuristic gitu kan. I mean banyak teknologi yang involve di tempat ini, terus ya sama curious juga tentang gimana sih Singapore dulu bisa sampai ke Singapore saat ini dan gimana Singapore yang akan datang.
1st floor Singapore City Gallery

Di gedung ini kayaknya gak completely for the gallery, karena ada semacam FO dan beberapa orang berpakaian kantoran berlalu lalang. Its a 4 or 5 th floor high, nah sedangkan gallerynya cuma di lantai 1-3 aja. Yang di lantai 2 dan 3 pun juga cuma satu sisi aja, sisi lainnya kayaknya untuk kantor. Nah di lantai 1 ada semacam mini miniature Singapura pusat, terus ada screen interaktif-nya juga buat baca-baca info seputar Singapura. (Gambarnya kayak gini nih).

Di lantai 2 nih baru sebelum masuk, mbaknya nyuruh aku isi identitas di buku tamu. Pas masuk, aku di sambut sama ruangan yang melingkar dan di semua sisinya screen gitu muterin video kehidupan di Singapura. Di tengah-tengah juga ada 3 screen yang bisa dipencet-pencet gitu, and once again itu bikin excited buat pencet-pencet, isinya juga tentang informasi seputar Singapore. Gak sekedar tulisan semua gitu, ada juga semcam gamesnya, terus grafik dan gambar-gambarnya. Moving on, dari ruangan itu selanjutnya masuk di yah semacam lorong gitu, di sampingnya ada beberapa tv yang menampilkan beberapa gambar Singapore then and now. Fotonya remake gitu, jadi pas “then” ada ibu foto sama anaknya pas kecil, foto “now” nya ibu itu udah grow old dan anaknya udah gede.

Setelah hall itu, ada screen lagi yang bergerak menampilkan foto-foto Singapore by years. Dulu pas tahun 19 berapa keadaanya gimana aja, terus di tv sebelahnya ada foto-foto tentang dekade yang selanjutnya. Inikan posisinya udah di lantai 3, jadi bisa ngelihat ke bawah, dimana ada miniatur yang lebih gede tentang Singapura pusat. Dari atas waktu kelihatan lagi ada anak-anak sekolah SD/SMP gitu yang lagi studi tour kayaknya. Further more, ada juga screen video orang yang njelasin gimana sih kok Singapore bisa berkembang gini. Mulai dari planning, terus actionnya dsbnya lah. If you watch it, it can make you like “Bener juga ya, mulai dari plan, preparation, actionnya. Mantap-mantap”. Di ruangan selanjutnya ada juga wall yang isinya meng-compare size-nya Singapura sama 
kota-kota terkenal di dunia, salah satunya sama Bali.   

Singapore compare with Bali
Fast forward ada ruangan yang game interaktif membangun kota yang baik itu gimana, terus ada juga screen yang nunjukin perkembangan pulau Singapura dulu semana dan perkembangan ukuran pulaunya sampe sekarang. Ada juga screen interactive isinya tentang apa sih yang ada di Singapura base on kedalamannya (watch the video here!). Ada juga ruangan yang tentang rencana Singapura kedepan, tentang bagaimana Singapura nge-balance kebutuhan lapangan kerja, kebutuhan tempat tinggal, ruang terbuka hijau, fasilitas untuk anak-anak, orang dewasa dan orang tua. Ada juga tentang perkembangan teknologi yang dipakai dan di develop di Singapura, terus juga ada tentang sumber daya alam dan sumber energi yang ada dan yang dipake sama Singapura. Ada juga screen yang muterin video-video tentang housingnya Singapore, taman-nya, industrinya dan lain-lain.

Setelah ruangan itu, ada juga ruangan yang ada big screennya terus bisa disentuh, jadi dia nampilin bangunan lama terus kalau kamu sentuh screen-nya, dia berubah jadi bangunan itu di masa sekarang (watch the video! click here). When I did that, I feel like my touch is the one that turn the old building into the new one, like magic hoho. Then I take the stair to go down to the big miniature of Central Singapore. Next to the miniature, ada juga ruangan yang berlayar LCD gede, kayaknya emang buat nonton bareng-bareng beberapa orang. Soalnya kalau yang pas di atas, mostly tv-tv yang ukuran sedang, lah yang di bawah ini dia emang se LCD se tembok gitu. Di samping-samping miniaturnya juga ada laya yang bisa dipencet-pencet buat tau info lebih detail tentang per daerah di Singapore. Btw dari awal sampe akhir kan kayaknya selaluada aja info-info di screen atau di tv-nya, don’t worry infonya beda-beda kok bukan diulang-ulang gitu. That miniature also the end of the city gallery, so I go back to the 1st floor.

Oia, I haven’t mention yet, di lantai satu juga ada buku-buku album Singapura dulu gimana, terus plan-plan bertahun-tahun yang lalu untuk bangun Singapore, but karena albumnya tebel-tebel dan gede, agak susah gitu bukanya jadi males, akhirnya aku tinggal. So from that I can conclude pentingnya sistem pamerannya yang interaktif, jadi gak bosen bacanya, dan gak monoton juga. My visit to this place has been so awesome because of all the tech that make my learning about Singapore more fun, its get even better when I know its free padahal di web tulisannya bayar. Akupun gatau, pas aku masuk gratis itu karena lagi sepi, atau emang pas hari free, atau mungkin web-nya yang salah info, atau karena aku masuk buildingnya lewat belakang wkwk, yang jelas I’m happy because its free.

Fountain of Wealth
I then go back to Chinatown mrt station dan naik mrt jalur biru, Downtown Line, mau ke stasiun Promenade. Tujuan utama, Fountain of Wealth. Stasiun Promenade ternyata mirip sama stasiun mrt yang Bayfront, stasiunnya sama-sama di underground mall. Aku tinggal naik, terus keluar dari mallnya, udah deh kelihatan Fountain Of Wealth-nya dikelilingi gedung gitu. Nah, waktu aku baca di Google Map, fountain ini ada jam bukan-nya. Leh, kan aku sempet bingung, masa air mancur ada jam buka?, oh ternyata itu jam buka kalau kamu mau masuk ke bawahnya air mancur itu dan keliling disitu. Bisa juga disebut sebagai jam ketika fountainnya berhenti mengalir (yang air dari lingkarannya). Fountainnya bisa dimasukin pas jam 2-jam 4, sedangkan aku sampai di sana sebelum jam 2. Jadi, aku bisa foto-foto dengan air mancurnya yang masih mengalir deras. Habis foto, bingung lagi nih mau ngapain ya, akhirnya aku turun lewat tangga yang ada di samping fountain, untuk 
sampai ke mall di bagian bawah.

Sampe di bagian bawah, di dalem mall gitu, aku bingung juga harus kemana nih. Dengan tetap muterin di sekitar fountainnya, aku nemu food court. Sayangnya pas rame gitu, kayaknya sih karena lagi jam makan siangkan jam 1 jam setengah 2, jadi deh gak ada tempat. Akhirnya aku cuma beli jus jambu, yang btw harganya hampir 35.000, terus muter lagi, nyari tempat makan buat nyemil-nyemil yang murah. Susahnya nyari yang keliatan murah, hampir semuanya kelihatan kayak resto-resto mahal. Sampe akhirnya nemu yang harganya lumayanlah, kayaknya sih harganya dibawah resto-resto yang tadi. Kalau gak salah namanya Tuk Tuk Cha. Aku pesen green tea sama dumpling isi pork, clelery,  dan ya beberapa spice lainnya. Habis sekita 50.000 sih, tapi bisa dapet dumpling, green tea, view under fountain, sama tempat duduk buat nungguin fountainnya buka. Not to bad-lah. I then enjoy the view, sambil menikmati bener-bener 5 buah dumpling kecil yang ada di depanku, while waiting jam 2 nunggu fountainnya buka.
Inside the mall, under the fountain
@Tuk-tuk Cha 

air mancur kecil di tengah-tengah
bawah Fountain of The Wealth
Makan dumplingnya tuh udah aku pelan-pelanin, biar gak habis duluan sebelum fountainnya buka dan jadi ngefong. Pas tinggal sisa 2, akju ngeliat air mancurnya kayak udah memelan gitu, wah ini nih pertanda udah mau buka. Akhirnya cepet-cepet habisin terus pergi ke pintu masuknya. Sebelnya pergi sendiri aku kalau mau foto full body, susah ya, harus minta tolong orang lain. Karena aku belum biasa, jadinya aku cuma bisa selfie-selfie aja atau ngefoto pemandangan yang ada di depanku. Begitu masuk sampe di tengah bawahnya lingkaran pas, kan ada air mancur kecil di bawahnya, ada papan tuh tulisannya puterin air mancur ini 5 kali, sambil tangannya kenak ke air terus, dan mintalah dalam hati permintaanmu. Terlepas dari benar tidaknya, ya udah lah, aku ikutan juga kelilingin air mancurnya.



You can’t do much down here, jadi setelah muterin air mancur itu aku selfie-selfie lagi terus keluar, dan naik ke atas. Dari atas selfie lagi ke bawah, karena kali ini kelihatan orang-orang dibawah lagi ngumpul gitu. I then go back ke Promenad mrt station, dengan tujuan Garden By the Bay.  Sebenernya untuk ke Garden by The Bay tuh Cuma beda 1 station sama Promenade, tapi list place-ku kan tinggal Garden by The Bay, sedangkan aku masih punya waktu banyak, jadi aku pengen ke bandara dulu. Ke bandara pengen tahu berapa lama sih. Soalnya aku sama MT belum mutusin besok pagi ke bandara naik apa, taxi, mrt, atau shuttle bus gitu. Pengennya mrt tapi takut gak nutut soalnya pesawatnya pagi. Nah, pas otw ke bandara kan berhenti di stasiun Stadium, petugasnya nyuruh kita semua untuk turun dan naik kereta yang habis ini aja. Nah aku kok ngelihat ada dekorasi yang bagus gitu di stasiun itu. Jadi deh, ah screw the train ayok deh jalan-jalan sembarang wkwk.

Outside National Stadium Singapore
Ekspektasiku itu patung yang digantung dengan gaya orang nendang bola. Eh pas aku naik, tak deketin, oalah gambar, tapi kok gede amat, jadi eyecatching. Udah terlanjut naik di eskalator, dan kereta tujuanku (akhirnya balik arah ke Garden By the Bay aja langsung) udah dateng, yah udahlah. Pas keluar dari station, yang waktu itu sepi, langsung ada petunjuk arahnya untuk ke stadium. Kepo stadiumnya kayak apa sih, ya udah deh ayo kesana. Too bad, stadiumnya ditutup jadi gabisa lihat dalemnya, tapi dari luar udah kelihatan loh bagusnya. Ada map stadiumnya juga, jadi bisa tau gate-gatenya dimana aja, main gatenya mana. Akses ke stadium ini juga banya, bisa lewat mana-mana. Nah terus di luarnya, itu ada kayak 3 jalur lari yang berwarna merah, biru, sama ijo. Jalurnya nih ngelilingi stadiumnya, jadi kayaknya kalau mau lomba lari by one sama temen bisa nih disini. Jadi, altough gabisa masuk karena gate-nya ditutup, tapi diluarnya (yang luas ini) itu boleh dipake main kok, kayak public space gitu. Pas aku kesana ada anak main sepatu roda di jalur yang warna tadi, terus ada juga kayaknya turis yang cuma lihat-lihat, ya termasuk aku sih.

Bangunan warna warni sebrang stadium
wall climbing in kallang wave
Selain itu, karena stadiumnya ini ada di lantai 3 lah itungannya, aku jadi bisa lihat sekeliling. Di sebrang stadium ini aku lihat ada bangunan yang luarnya ada banyak bangun ruang warna warni gitu, ternyata itu theater loh, aku gak kesana sih tapi. Nah terus disebrang, semacam jembatan yang nyambungin stadium sama entah bangunan apa di sebelah sana, itu ada playgroundnya. Karena masih efek kenak West Coast Park kemaren, aku jadi pengen ke playground juga, ah tapi akhirnya males gak jadi, soalnya playgroundnya outdoor jadi panas gitu kelihatannya. Kalau yang kemarin di West Coast Park, kan dia teduh banyak pohonnya.  Setelah selesai puas ngelihatin stadiumnya, aku balik turun mau naik mrt lagi. Eh, tapi pas turun, ada sign Kallang Wave Mall. Tergoda buat lihat, akhirnya mampir dulu ke mall hoho. Untuk ukurang mall, sepi sih pas aku kesana, tapi walaupun sepi mereka tetep jualan yang branded gitu. Aku mah lihat-lihat doang gak beli apa-apa wkwk, terus begitu agak masuk dan belok ke kiri, wah ada wall climbing gitu di tengah-tengah. Huuu aku jadi pengen, tapi tetap berpegang teguh prinsip hemat, jadinya cuma ngelihat aja, terus balik ke Stadium mrt station.

mirror way to Garden by The Bay
Nah sekarang otw nih ke Garden by The Bay. It means we from Stadium mrt ke Bayfront, tanpa perlu pindah-pindah jalur. Turun dari mrt di Bayfront tinggal ngikutin papan petunjuk arah, lumayan agak jauh sih. But no worry, enaknya kita jalan jauhnya dalem ruangan bukan di outdoor jadi gak kepanasan. Bayfront stationpun juga ternyata udah dibuatin jalan undergroundnya yang bisa langsung nyambung ke Garden by The Bay. Salah satu ruangan/jalan yang aku lewatin pas di underground, itu kayak mirror room gitu. All the way of the hall cermin semua. Jadi cermin-gambar-cermin-gambar begitu terus sampe ke-ujung. Gak sedikit orang yang berhenti dulu buat mirror selfie or mirror we-fie. Yah, karena aku sendirian aku mah mirror selfie sama boomerang hehe. Btw, gambar-gambar yang diantar cermin itu gambar bunga-bunga loh, jadi kayak udah di lead kalau habis ini tuh mau ke garden by the bay.

The Planet
Garden by The Bay
Nyampe di ujung, you can choose mau naik lift atau eskalator, sama aja kok. Pas diatas, langsung nyampe di bagian ujung Garden by the Bay. Pas aku udah diatas, loh kok sepi ya. Aku mikirnya mungkin ini bagian belakang kali ya, kok sepi. Ternyata bukan bagian belakang sih, tapi emang dia gak deket sama attraction garden by the bay yang mana aja. Ada sih deket sama meadow, tapi meadow tuh lahan kosong yang biasanya dipake kalau acara pensi atau konser lokal gitu. Tempat aku keluar itu ternyata ada loket buat yang trip keliling garden by the bay naik mobil, terus mereka juga nyediain free map loh, ada yang bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. I take the map and start my tour around the Garden by The Bay. I start from the Planet, which is a huge giant white baby naked statue. Ada deskripsinya sih, tapi gak ngerti plus gak begitu menarik juga sih.Then I go to Super Tree Groove, ini tempat yang di atasnya ada OCBC sky way. Dibawahnya pohon itukan ada bisa buat tempat duduknya gitu. Aku foto-foto sampe bosen disitu, terus aku naik ke-atas, ke OCBC sky way. Untuk naik ke atas sky-way perlu membayar tiket sebesar S$8. Kalau cuma muter-muter di Garden by The Bay-nya aja, gratis kok. Yang bayar lagi itu kalau mau masuk ke flower dome sama cloud 
forest.
around Super Tree Groove

View from the OCBC SKyWay
Dari atas sky way, viewnya lumayan loh bagus, kelihatan Singapore flyer sama Marina Bay Sands, flower dome, cloud forest, dan gedung-gedung tinggi lainnya. Yang agak mengecewakan karena pas naik diatas, ternyata waktunya dibatasin 15 menit. Yahhhh elah, 80.000 15 menit. Kayaknya sih dibuat gitu supaya gak semua naik terus gak ada yang turun, lak patah jembatannya nanti. Untungnya pas aku kesana sepi, jadi aku sih sengaja ngelama-lamain, tapi banyak orang-orang yang naik, termasuk beberapa orang yang naik sama aku, mereka keburu turun. Ada yang kayaknya “udah gini, yaudah turun, udah foto kok”, terus ada juga yang takut karena ketinggiannya. Setelah tak puas-puasin foto di atas, akhirnya aku turun, terus lanjut explore lagi. Karena udah sore dan aku pengennya pulang sebelum tempat buang ngambil deposit STPku tutup, jadi untuk tempat-tempat lainnya di garden by the bay aku cuma lewat aja gitu. Ada floral clock, web of live, fruits and flowers, world of palms, secret life of trees, Indian garden, Chinese garden, Malay garden, colonial garden, dan dragonfly lake. I can’t really describe much, soalnya mostly cuma lewat aja. Kalau yang Chinese/Indian/Malay garden, itu tanaman khas negara-negara itu.  Udah segitu aja wkwk.

Di map-nya ada juga sate by the bay, katanya sih recommended, pengen sih tapi karena posisinya aku baru makan di Fountain of Wealth dan juga keburu tutup nanti mrt stationnya, jadi aku gak mampir deh. Apalagi sate by the bay-nya itu ada di pucuk sana, sedangkan aku ada di pucuk sini, kondisinya juga aku udah capek muterin garden by the bay, so I decided to go back ke mrt station buat balik ke hostel. Sampe di mrt-nya lavender aku pergi ke tempat Singapore Tourist Pass-nya buat nukerin kartu Singaore Tourist Passnya biar aku dapet kembali uang depositku S$10 hehe, lumayan kan 100 ribu. Nah, then come another problem, kan biasanya habis sampe di stasiun mrt aku naik bus lagi, lah bus-kan bayarnya juga pake STP. Berhubung STP-ku sudah dibalikin, berarti aku harus jalan dari Lavender mrt station sampe hotel. Emang sih gak begitu jauh, tapi ya panas dan males capek aja. 
Udah gak ada energi habis keliling Garden by The Bay.

So, setelah dapet boost uang 100 ribu dari deposit STP, aku pake uangnya buat beli makan sama susu 2 botol. Sekalian sebagai recharge energi buat jalan kaki ke hostel. Nah aku makannya itu aku beli di food court yang di ground floor mrt lavender. Remember I eat McD kemaren malem? Nah sebrangnya kan ada food court, disitu deh aku makan. Aku pesen nasi   bebek kalau nggak salah, nah terus aku juga mbungkus carrot cake. Soalnya agak kepo gimana gitu, waktu ke hawker center Lau Pa Sat (hari pertama) ada banyak stand yang jual carrot cake, nah aku tadinya gak tertarik soalnya sayuran gitu kan. Eh, makin kesini aku kepikiran terus, soalnya carrot cake-nya kok gak warna orange, jadi curiga gitu kalau ini kayaknya gak ada wortel-nya deh. Jadi, deh aku bungkus buat nyamil di hostel. Habis itu aku jalan deh ke hostel sambil tenteng-tenteng bungkusuan-nya carrot cake.

Nyampe di hostel sekitar jam 7 an. Pas aku jalan, kayak merasa ngelawan arus gitu, soalnya orang-orang kantor pada pulang dan pada jalan arah ke mrt station lavender. Nyampe di hostel, aku langsung mandi, keramas terus packing. Later the night, I spent my night di depan komputernya hostel sambil minum susu dan nyemilin carrot cake. Ternyata carrot cake enak banget, dan carrot free. Rasanya 1 kurang, I will definitely buy more if I came back. Di depan komputer aku browsing berita, facebookan, bahkan kadang kalau pas internet-nya lost, aku makan minesweeper sama spider solitaire. Since the computers ada di lorong utama hostel, orang pada lalu lalang. Bule hangout together, terus ada cowok sebelahku yang juga facebookan, he’s from Thailand. Lucunya, dia ngajak aku ngomong, pas aku bilang dari Indonesia, dia langsung nebak Malang. Kok langsung bener, padahal biasanya orang taunya Indonesia-kan Jakarta, Bali gitu, so pretty shock dengan tebakan pertamanya yang bener. Setelah itu, cowoknya balik ngomong-ngomong lagi sama mbak crew hotel yang disebelahnya lagi streaming drama ntah korea ntah thailand, soalnya dia nanyain bahasa gitu ke cowok ini. I spent my night do nothing important di komputer, dan akhirnya jadi semacam observe dan nguping apa yang terjadi di sekitarku. Setelah udahan sepi, aku bali ke kamar, main hp, gak lupa nyalain alarm, terus tidur deh.


Stay tune for my last-last day in Singapore, silly thing that happen to me when arrived in Juanda International Airport and RuckSackInn Hostel review. Keep reading!  :D

Jangan lupa baca #TiaTripToSingapore series yaa
tiadominicha14
and my travel gallery and for business thing, check out
tiadominicha14_fungallery 

Sorry if there's any typo or wrong mistake in my grammar and sorry if dual language is annoying hehe.
For any question, businesses inquiry, feedback, or anything else, feel free to leave it in the comment below or send it to my email business.tiadominicha14@gmail.com

Love and regards,


Tia Dominicha Ponglabba