#TiaTripToToraja Pulkam Lebaran '17 Part 2

24 Juli
This day is when I finally jalan-jalan after 3 days tidak melakukan hal-hal yang berarti di sekitar rumah. First stop, ada namanya Pallawa Housing. Daddy said komplek perumahan Pallawa ini dikhususkan dan dispecialkan emang untuk rumah tongkonan yang asli. Emang yang asli itu gimana sih? Yang asli itu atap rumahnya terbuat dari bambu dan diutupin sama semacam jerami hitam gitu. Jadinya yang rumah tongkonan yang masih old style, biasanya di atapnya (yang pake bambu tadi) itu ada tumbuhannya yang tumbuh, termasuk juga beberapa ada lumutnya. This is the pic.
Itu yang asli, kalau yang sudah mengadapatasi bahan-bahan modern, ada yang menggunakan seng dan genteng. They also sell souvenir kayak hiasan kayu yang menyerupai bentuk nenek/kakek, rumah tongkonan kecil dan hewan-hewan seperti kerbau, babi, gajah dsb. Jual juga perhiasan , tas dan kain. Seperti di bawah ini fotonya
Pallawa Housing

Simple small souvenir shop
Setelah dari Pallawa Housing (yang emang cuma lihat-lihat aja sih, gak bisa ngapa-ngapain), we continue the journey to kubur batu Lokomata di Batutumonga. Batutumonga ini terletak jauhhhhh diatas bukit. Padahal ke Toraja aja jalannya udah naik dan muter-muter kayak naik bukit, eh ini masih naik lagi diatas sana. Setelah lumayan lama dan melewati jalan yang rusak, akhirnya udah mulai deket. Since selama masih terus naik ke atas, udah mulai ada beberapa batu-batu besar, baik yang dijadikan kuburan atau yang masih batu polosan. Aku kurang tau apa yang menjadi latar belakang, kenapa warga memakamkan/menaruh peti matinya di dalam batu, but I know for sure, batunya itu asli dan nggak dikumpulin dalam satu tempat. Thats why bahkan masih di perjalanan aja aku udah ketemu beberapa batu yang dijadikan kubur.

Di daerah tinggi begini, kan lahannya pada dijadiin sawah gitu. Nah, di antara hamparan sawah yang luas itu ada beberapa batu yang tersebar (non big enough buat dijadiin makam tho). Untuk sebuah sawah, batunya itu termasuk banyak kalau menurutku. Biasanya kan kalau sawah malah nggak ada batunya kan, nah ini ada beberapa, jadi untuk sebuah sawah, ya banyak. Tapi ada juga sih yang batunya besar dan big enough for makamnya.
Spot the stone? Sebaran batu di tengah sawah


Nah akhirnya, waktu udah hampir nyampe, yah kok kayak macet gitu jalanannya. Njir, ternyata itu mobilnya parkir di kedua ruas jalan. Jadi, jalannya ketutup sama mobil yang parkir. Ternyata ada orang nikahan, dan mobil-mobil yang parkir ini undangannya. Nah padahal kan belum nyampe, untungnya di belakang kita udah nggak ada mobil lagi. Jadinya kita mundur dan lewat jalan yang agak sempit, yang cukup buat 1 mobil 1 motor doang. Pas kesananya sih lancar, tapi ngebayangin ntar pulangnya kalau ketemu mobil lain gimana? ._.

Okay I then nyampe juga di lokasi kubur batu Lokomata. I think spot ini yang dijadikan sebagai main or like the god of kubur batu soalnya dia batunya yang paling besar. Di batu ini ada sekitar 50an lebih peti mati yang ditaruh di dalem. Jadi, sebenernya itu semua adalah batu biasa, kemudian karena batunya besar jadi dianggap bisa dijadiin makam. My dad also said, untuk ngubur/menaruh peti didalam batu jauh lebih mahal dari dikubur biasa di dalem gedung. Soalnya harga mahat batunya biar lobang ke dalem itu susah, even it takes months. This is the pic
Kubur Batu Lokomata, Batutumonga

Selesai ngelihat-lihat, we actually want to continue ke pemandian air panas Tilanga, but sayang sekali hal itu tidak bisa terealisasi because we got an accident. Medannya pas jalan turun mau balik, kan ya sama kayak pas naik, muter-muter gitu. Waktu belokan, yang posisi mobilnya ada di bagian dalam (sebelah bukit), spionnya nyengol batu gitu. Spionnya terus patah. Waktu nabraknya-kan mobilnya jadi keguncang gitu. Jadi ber4 di dalem mobil kayaknya udah deg-degan semua. Langsung switch plan, ke Rantepao aja cari bengkel. Baru juga spionnya patah, nggak lama setelah itu, kenak insiden lagi. Pas jalan turunan, medannya berbatu gitu. Jadikan pas turun gronjal-gronjal gitu. Eh nggak taunya kok rack yang biasanya ada di atas mobil, yang bisa buat bawa extra bagasi, meluncur ke bawah. Lepas gitu kayaknya, jadi pas turunan gronjal dia meluncur lewat kaca depan. Kita cuma kaget gimana gitu, nggak sampe yang shock, soalnya kan nggak ada guncangan keras kayak nabrak. Bahkan yang ini cenderung lucu, soalnya kok bisa tiba-tiba meluncur.

Akhirnya ya udah fix batal ke tempat pemandian dan jadinya ke Rantepao. Before we finally get there, we stop once in this warung yang ada di pinggir jalan, dengan viewnya sawah dibawah yang menghampar luas. Ngewarung dulu biar tenang habis insiden. Menunya ya menu standar warung antah berantah, mie instan, kopi, teh, milo, energen, dan minuman botolan. Setelah itu lanjutin perjalanan ke Rantepao deh. Pas nyampe sempet bingung, soalnya yang banyak bengkel motor, tapi pas ketemu bengkel mobil 1 dilempar ke bengkel yang lain, udah kesana dilempar lagi ke yang lain lagi. Sampe akhirnya ada juga yang nerima dan gak dilempar lagi. Spionnya cuma di lem dan rak yang diatas dipasangin baut (bautnya ilang katanya, padahal nggak diapa-apain). Waktu selesai benerin keduanya, waktu udah menunjukkan sekitar pukul setengah 6, sudah sore. Ya pulang deh, balik ke Sa’dan. Ternyata daddy berhentiin mobilnya di tempat cuci mobil. Biar bersih katanya. Yang beda, tarif cuci mobilnya. Jadi air 20 ribu dan yang nyuci per orang 10 ribu. Kalau mau cepet bisa langsung 5 orang, tapi jadi 50 ribu, plus air jadi 70 wkwk. Setelah selesai langsung balik ke rumah and that was it for today.


25 Juli
Jam tidurku di kampung jadi kacau, selalu tidur jam 12 lewat bahkan jam 1/jam2. Alhasil tidurnya juga jadi extend sampe siang. Bangun jam 9 jam 10 an, langsung disuruh siap-siap, because we are going to Palopo. Palopo iu deket daerah pantai. Jadi untuk mencapai kesana itu juga berarti will be a long way and spinny way and turunan. Di Palopo mau nengokin kakaknya papa yang recently terbaring sakit keras. Beliau sebenernya, seharusnya di Makassar untuk berobat. Tapi beliau pengen balik ke Palopo dulu mau lebaran di rumah. Jadi deh kita jengukin sekalian lebaran juga. Karena berangkatnya agak siangan, nyampe di rumah om nya pas malem jam 8 gitu. Belum lagi sebelumnya kita mampir juga di rumah saudara papa yang lain (entah saudara apa dan dari mana, since my dad got a lot of family). Di rumah tantenya kita sempet dihidangin makanan, sekalian deh buat makan malem.

Setelah dari tantenya lanjut ke rumah om, pas nyampe, eh dirumahnya rame banget. Tetangga-tetangga dan temen-temennya keluarga om pada lebaran semua kayaknya. Setelah salaman sama om yang cuma bisa terbaring sakit di kasur, aku diajak makan lagi sama (kakak) keponakanku dan (om) sepupuku. Sama tantenya juga aku disuruh makan, ya udah makan deh. Ada yang enak pol le, bebek! Di potongin agak kecil sih, jadi nggak sepotong gitu.  Digoreng kering doang padahal, tapi kok enaknya banget dan jadi nambah hehe. Oia, karena daerahnya yang deket pantai, udah malampun, tetep kepanasan. We also stay di rumah om for the night. So thats all for the day.


26 Juli
Paginya kita langsung cus balik lagi ke Sa’dan. Nggak lupa buat makan dulu sebelumnya hehe. Daddy said we kinda in a hurry soalnya ntar siang agak sorean ada tedong silaga lagi, dan kerbaunya papa tanding lagi. Padahal akhirnya tandingnya besok bukan sore ini haha. Yah for today nothing important happen. Lets just move on to the next day.


27 Juli
Today we are ke makamnya nenek sama kakek. Sebenernya reachable kalau jalan, tapi akhirnya naik mobil. Soalnya kalau makamnya kakek agak jauh. You guys have to know makamnya nenek sama kakekku itu beda tempat. Perbedaan ini didasari asal daerah. Gampangnya sih gitu, tapi kayaknya masih ada penjelasan yang lebih dalam lagi yang aku kurang tau. Makam nenek dan kakekku juga berupa gedung, bukan seperti yang sering diberitakan di TV (ditaruh di bukit dan mayatnya jalan atau apalah itu). Bukan berarti itu bohong. Ada yang kayak gitu, tapi malah mayoritas nggak begitu. Tempatnya pun ada sendiri. Sedangkan kalau makam digedungin gini, itu bisa dimana aja. Waktu ke makam, ya sama kayak ke makam pada umumnya. Di bersihin gedung dan sekitarnya. Yang agak kuno menurutku, papa masukin uang ke gedungnya. Bahkan di makam yang sebelahnya makam kakek, ada orang ngasih kue utuh 1 bunderan, ada yang ngasih bir dan payung juga. They did that because believing the spirit od the dead still alive and do normal activity like living human. Ya sort of like that lah.

Sorenya di hari yang sama, aku main lagi ke bawah, ke Tobarana. Ternyata ada lagi sabung ayam dan yang aku baru lihat ada judi dadu, namanya Selebor. Cara mainnya, jadi ada dalangnya yang ngocoking dadu sama meganging uangnya. Di bawah ada semacam lembar kain yang ada angka dadu 1-6 warna hitam, 1-6 warna merah, dan kotak tulisan kecil dan besar. Nah terus sebelum dalangnya ngocok dadu, orang-orang pasang uang dulu. Kira-kira ntar hasilnya besar atau kecil, kalau tebakan benar nanti uangnya dapet dobel. Kalau pengen untung yang lebih besar, bisa taruh uangnya  per angka dan warna, misalnya 4 merah. Kalau habis di kocok yang keluar 4 merah, bisa dapet sampe 5x lipat uang yang ditaruhkan. Tapi kalau lihat dari peluang, ya enak yang besar kecil. Soalnya peluang menang-kalah sama-sama ½, sedangkan kalau yang angka peluangnya 1/6. Aku sih cuma ngelihat aja. Nggak ikut main. Yang main malah adekku. Bukannya untung malah kalah 100 ribu wkwk.


28 Juli
Awalnya pas pagi ngga ada yang begitu seru, sampe akhirnya pas siang another ponakan of mine nyamperin ke rumah. Ngajak aku sama kakak keponakan aku, Kak AY, buat jalan-jalan ke Tobarana. Bosen di rumah. Akhirnya kita bertiga ke bawah, katanya sih ada yang lagi main selebor, eh tapi nggak ada tuh. Jadi sempet bingung sebentar mau ngapain nih. Nggak lama, terus ketemu kakakku, dia join, kita jadi berempat cewek-cewek bingung mau ngapain. Denger-denger di deket sungai ada yang lagi Sabung Ayam, disitu juga ada yang main Selebor. Ya udah kita kebawah. Belum juga sampe, dari agak atas udah kelihatan kalau itu cuma 1 kerumunan besar orang yang ngelihatin Sabung Ayam dan gak ada Selebor. Balik deh akhirnya. Nah, pas balik kita ngelewatin kandang babi. Babi-babi ini nantinya akan dibunuh semua dan dibagi-bagikan untuk tamu yang datang. Pas kita lewat sih babinya masih hidup semua, tapi pas kita agak jauhan dikit ternyata mereka mau ngebunuh 2 babi saat itu. Jadi akhirnya kita nontonin orang bunuh babi.
sacrificed piggy

Pertamanya, babinya dibunuh dulu dengan cara ditusuk. Kedua setelah dia matiti, babinya dibakar. Tujuan dibakar sebenernya bukan biar mateng dan jadi babi bakar, tapi biar bulu-bulu nya ilang. Jadi ntar masaknya gampang. Setelah kedua babinya melewati proses itu, babinya dibawa ke tempat pemotongan. Kita ikutin tuh babinya. I watch when the people cut the pig. Pisaunya tuh tajem banget deh kayaknya, sekali sayat langsung kebuka gitu dagingnya. Baru buat motong tulang-tulang rusuknya (buat ngeluarin bagian dalem babinya) itu pake parang. Setelah puas melihat pembedahan babi, kita berempat balik ke rumah nenek. Soalnya we are going ro the river. Kita sih cuma main air, kecuali kakak sama adekku, yang baru join pas ke sungai, mereka berdua mandi di sungai. 

Sebenernya sih aku juga pengen mandi di sungai, tapi kurang yakin aja sih sama kehigienisan airnya. Even tho its looks clear and way way much better than air sungai di kota, tapi tetep aja aku gak yakin. Then just in time pas kita udahan, ada kerbau dateng sama pengurusnya. Kerbaunya full of mud lagi, so we can guess that kerbaunya mau dimandiin. So thats all the fun things for today.
at the river near by


29 Juli
Today is probably the main reason why we came to Toraja. Hari ini adalah hari terima tamu untuk acaranya temen deket papa itu. Where my dad jadi terima tamu. Selain terima tamu, I think the reason my dad have to come, soalnya harus bayar utang. Sistemnya di Toraja ini emang kayak gitu. Jadi, waktu nenekku meninggal, papakan juga bikin pesta begini. Kalau pesta, pasti perlu banyak babi dan kerbau. Nah, orang-orang itu pada nyumbangin babi/kerbaunya. Sistemnya adalah utang, jadi ketika papaku bikin acara ada yang nyumbang, maka kalau orang yang nyumbang tadi bikin acara, papaku juga harus bayar utang dengan ngasih yang sama babi/kerbau. Selama acara selamat datang (yang 2 hari dewe acarane), kita nunggu plus ngelihat berjalannya acara di lantang. Lantangnya ini dibagi perdaerah. Jadi aku duduk di lantang Sa’dan, ada yang Makale, ada yang Pangli, dll deh banyak.
Siangnya, waktu hari penerimaan tamu, yang punya acara juga nyediakan makanan ke tiap lantang. Makan siang, minum, teh, dan snack-snack. Acara yang dimulai dari jam 9an sampe jam 2 an itu, ya cuma gitu-gitu aja diulang-ulang. Jadinya bosen. Sampe aku ketiduran di lantang. Bangun-bangun udah waktunya makan siang aja hoho. Habis makan siang, nggak lama acaranya selesai dan boleh balik ke rumah.


30 Juli
This is my last day here. Even in the morning, jam 6 an, udah langsung cus ke Rantepao buat nungguin bus. Nyampe di Rantepao, ternyata busnya belum dateng, akhirnya kita cari sarapan dulu. Sarapannya di tempat sarapan hari pertama di Toraja. I never know apa nama warungnya, yang jelas makanannya adalah makanan yang sama, Songko. Nggak lama setelah selesai makan, busnya dateng. Kita naik ke dalam bus. Kursinya nggak langsung penuh, karena nanti keisinya seiring jalan ke Makale. Pas ditengah-tengah jalan, kan ada juga orang yang naik. Dia udah naik dan bisnya udah jalan. Eh, dia berisik bilang ada kresek isinya makanan ketinggalan. Dia minta bisnya buat muter. I’m like “Hello ini jalannya sempit dan ini bus. You think segampang itu kalau mau muter?”. Akhirnya ya gak muterlah busnya, si ibu nya nyuruh orang disana buat bawain makanannya naik motor ke Makale (next bus stop). Ya gitu kek yang bener, masa disuruh muter. Ngawur ae.

Oia, bus kan biasanya berhenti di terminal bus, kalau yang ini bisa lho masuk sampe ke bandara. Jadi kita nggak perlu repot lagi mikir dari terminal ke bandara transportnya gimana, udah langsung sampe. Pas sampe kita ya langsung masuk, karena untuk check in udah minta tolong ke temennya papa. Soalnya emang waktunya termasuk mepet sih,  empat puluh lima menit sebelum berangkat, jadi jaga-jaga kalau lebih mepet lagi, biar nggak ketinggalan pesawat. Untuk duduk di pesawatnya, karena sudah ada perjanjian anatara aku dan adekku, jadinya dia deh yang duduk di jendela. Padahal kalau aku mau main jahat (yang adil dan sesuai aturan), harusnya aku yang duduk di jendela, karena di boarding passnya, yang duduk di seat A aku. But, well its fine. Nyampe di Surabaya, dijemput sama mommy. Nyampenya di Surabaya-kan malem, kita juga belum pada makan. Akhirnya makan dulu di A&W (again). Its kinda funny things, sebelum berangkat makan A&W, pulang makan A&W lagi. 
Sama kayak nyampe di Rantepao makan Songko, pulang dari Rantepao makan Songko lagi.

Okay so thats all for this #TiaTripToToraja Edisi Pulkam. See you in my next #TiaTripTo series. I hope you enjoy the story. Sorry if there's any typo or wrong mistake in my grammar and sorry if dual language is annoying hehe.


For any question, businesses inquiry, feedback, or anything else, feel free to leave it in the comment below or send it to my email business.tiadominicha14@gmail.com

See more pic in my personal instagram account
tiadominicha14
and my travel gallery and for business thing, check out
tiadominicha14_fungallery 

Love and regards,



Tia Dominicha Ponglabba