#TiaTripToToraja Pulkam Lebaran '17 Part 1
Pulkam ke Toraja is definitely not my idea.
Tiba-tiba aja pas papa pulang dari Jakarta, udah bawa tiket Surabaya-Makassar
buat 3 orang. Udah gitu 10 hari lagi. Bukannya aku gak seneng, tapi ya gitu,
kadangkan kalau di kampung kegabutan hebat melanda. Habis bingung mau ngapain. There
are only mountain, sungai, sawah dan kerbau. So, here you go my story pulkam ke
Sa’dan Toraja, Sulawesi Selatan (buka Sa dan Toraja lho, Sadan itu nama
daerahnya di Toraja situ).
That day Selasa, 20 Juni aku berangkat dari Malang
with my big sis and lil bro. Berangkat dari bandara Juanda Surabaya naik
pesawat Citilink. Eh ternyata pas nyampe disana, masih belum buka check in-nya,
since kita datengnya like 4 jam sebelum jam berangkat. Yah, namanya juga waktu
buat antisipasi, takutnya macet di jalan. Soalnya, aku pernah tuh berangkat ke
Jakarta, dateng-dateng langsung masuk pesawat (untungnya udah ada temennya mama
yang nge-check in-in), itupun posisinya semua penumpang udah duduk manis, dan
aku masih harus lari ke pesawatnya. Okay back to today, jadi karena dayengnya
kepagian, kita bertiga makan siang dulu deh ke A&W. Di A&W aku makan 3
ayam lol, 2 punya aku, 1 nya punya adekku, dia udah nggak mau.
Akhirnya setelah makan, kita check-in juga. Pas udah
dipanggil buat masuk pesawat, pengumuman yang lewat speaker tuh kan emang suka
gak kedengeran jelas, ya kan? Nah akhirnya mlai curiga kalau udah boarding, pas
ruangannya kok jadi sepi, semua udah pada naik, ya ada beberapa sih yang belum.
Nah pas lihat di TV-nya, tulisannya Manado, eh ditunggu bentar ganti Makassar.
Jadi ternyata emang pesawat tujuan Manado lewat Makassar gitu. Mulai dari
sebelum naik pesawat sampe udah di pesawat, ada bentrok antara aku sama adek.
Yah biasa, aku emang dasarnya masih childish juga, kadang gabisa ngalah. Nah
aku tuh mau duduk di jendela, dia juga mau. Akhirnya biar adil, diputuskan
dengan sesuai tiket aja deh. Kalau sesuai tiket, aku yang di jendela. Ya udah
akhirnya aku yang duduk di jendela. Eh dia marah. Akhirnya bikin kesepakatan,
ntar pulangnya dia deh yang di jendela (fyi, kalau sesuai tiket, pas pulangnya
aku lagi yang dapet window seat).
Begitu nyampe di Bandara Sultan Hassanudin, kita
masih harus nunggu lagi. Nunggu papa lebih tepatnya, since papa berangkatnya
dari Jakarta dan pesawat kita beda sejam. Sambil nunggu, kita cari warung yang
ada chargernya, soalnya si kakak mau nge-cas hp katanya. Padahal baru aja makan
A&W, tapi yah biar menghilangkan rasa gak enak ke yang jual soalnya numpang
nge-cas, akhirnya pesen lagi deh. Pesen nasi goreng, rawon sama es pisang ijo.
Setelah papa confirm udah mendarat, kita balik ke tempat kedatangan. Bahkan,
setelah papa dateng, kita harus nunggu lagi. Selama ini kalau ke Toraja, selalu
udah ada mobil yang nunggu dan langsung cus ke Toraja. This is the first time,
aku naik bus malam dari Makassar ke Toraja. Sebenernya agak gak yakin gitukan
kalau naik bus, altough papa udah bilang kalau busnya yange executive. Ada
sandaran kaki dan kurisnya bisa diturunin gitu.
Kita sih jadinya dijemput sama Kak AY, dia udah
kuliah, tapi dia itu keponakan aku. Ya, since my dad family tree its
complicated, aku jadinya punya keponakan yang lebih tua dari aku. Dijemput Kak
AY di bandara terus dianterin ke tempat bus-nya. Ternyata bus-nya not bad at
all lho. Its just the same sama yang dibilang daddy, kursinya tuh kayak sofa
gitu, bisa diturunin dan ada kakinya juga. So, to be honest naik bus was better
than naik mobil. The only not so good thing kalau naik bus, nggak bisa
langsung
sampe di tujuan. Jadi, karena naik bus, kita nanti harus turun di Rantepao.
Rantepao tuh, daerah rame-nya Toraja. Selain
Rantepao, ada juga yang rame itu Makale. Rame disini, maksudnya adalah kayak
daerah di Toraja yang udah berkembang gitu. Jadi, aku harus turun disitu, di
Rantepao, baru nanti dijemput mobil disana. So eventually tetep harus nyewa
mobil, tapi nyewanya di Toraja, gak perlu nyewa dari Makassar. Dijemput sama om
A, temennya papa. Begitu dijemput, langsung kita cari sarapan.
Yup, thats right sarapan. Jadi setelah makan siang
di A&W kemaren, terus makan lagi dikit di resto sambil nunggu papa, kita
nggak makan lagi. Berangkat naik bus malam, start dari Makassar jam setengah 9,
jam 9 an, terus sampe paginya baru sampe. Soalnya emang perjalanan dari
Makasssar ke Toraja itu makan waktu 7 jam, belum dia sama berhenti-berhenti
busnya dan isi bensin dan bla bla bla yang lain. Jadi, kita nyampe di Toraja
tuh jam 6 pagi terus cari makan tadi.
21 Juni
For my very breakfast di Toraja, I eat this food
name Songko. Its ketan dibungkus pake daun pisang, terus temen buat makan ketan
ini, ada telor asin sama parutan kelapa gitu. I personally nyadar kalau aku tuh
kayaknya udah sering makan ini, tapi baru ini merhatiin makanannya. Terus juga
baru pertama kali aku makan Songko pake kelapanya. Biasanya cuma ketan sama
telornya aja. Ternyata pake kelapanya enak lhoooo, malah jadi pengen nambah,
tapi enggak jadi soalnya masih pagi wkwk. Kelapanya juga ada yang kelapa putih
sama ada yang kuning. If you go here, I recommend you pilih yang kuning aja,
soalnya lebih enak.
![]() |
| Songko |
Siangnya hari itu, sama papa diajak nonton adu
kerbau, or in Torajanese its Tedong Silaga. In my memory, dulu liat tedong
silaga itu seru. Setelah sekian lama, akhirnya aku nonton lagi, ternyata ya
masih seru kalau pas berantem. Soalnya ada kerbau yang ogah-ogahan diadu. Ada
juga yang malah kabur. Ada yang satunya mau, satunya lari. Ada yang malah bobo
berendem di lumpur aja. Tapi kalau udah pas dua-duanya mau, seru deh. Bahkan
tedong silaga dijadikan ajang buat berjudi. Quick info, di Toraja banyak hal
berhubungan sama uang, like maybe we are far far away from the town, but it
doesn’t mean we don’t have money. Bahkan, padahal kan ini udah 7 jam dari
peradaban maju di Makassar, terus juga bukan di kotanya Toraja (bukan Rantepao
dan bukan Makale) tapi mobil dimana-mana njir. Mobil-mobilnya keren lagi (cukup
keren for a village), avanza, fortuner, rush, hilux, dll. Gile kan? Aku
personally shock lihat desa yang sangat jauh di atas bukit mobilnya banyak dan
bagus.
| salah satu orang yang berjudi di Tedong Silaga |
Okay back to Tedong Silaga. Later that I know,
ternyata kita bertiga disuruh ikut, soalnya kerbaunya papaku juga ikutan
berantem waktu itu. Di arena itu, mostly orang yang nonton itu berdiri, tapi
ada juga dibikinin tempat buat nonton dari bambu dan kayu seadanya. Kalau dari tempat
itu bisa nontonya sambil duduk. Aku nonton dari tempat yang bisa sambil duduk
itu. I seperate from my dad and my bro because tempat duduknya yg available
kepisah-pisah. Selama pertandingan kerbau, yang beneran berantem dua-duanya,
people around me, specially the man, mulai bid their price to one of the
buffalo they believe gonna win. Menang, bukan berarti sampe salah satunya mati,
cukup sampe salah satunya gak kuat lagi bertarung dan kabur keluar arena.
Bahkan kalau belum berantem, baru kejar-kejaran, dan yang di kejar langsung
keluar arena, itupun dia udah dianggep kalah. Thats the typicall coward
buffalo, ada yang udah bertanding sengit, terus karena udah luka kepalanya,
baru deh dia kabur.
| kalo kayak gini baru seru |
Sambil nonton pertandingannya dan kadang juga sambil
menghilangkan kebosanan mereka banyak yang ngerokok. All of the smoke their
produce definitely hurt my lung so bad. Sometime I feel like my oxygen run out
and it makes me breath so heavily. I see
smoke in my left and I see smoke in my right. But what I hate the most, is when
the person next to me the one who smoke. Like “ugh ugh, my oxygen, you hurt my
lung” I just cover my nose and even sometimes I look down and put my face
inside the clotches. There is also this man, dia duduk di depan sendiri, bahkan
dia mangku anak kecil, everytime ngelihat ke arah bapaknya, pasti lagi
ngerokok. Bukan berati aku merhatiin bapaknya terus, pertamanya bahkan aku
nggak merhatiin sama sekali, baru setelah beberapa kali pas noleh kok ada
asapnya mulu sih. Apa rokoknya puanjang banget ta nggak habis-habis? Akhirnya
mulai tak perhatiin, ternyata emang begitu habis, rehat bentar, isep lagi
batang yang baru. Nggak kebayang ibu-ibu yang duduk di sebelahnya dan anak
kecil yang dipangkunya.
Then there is this one match, between buffalo name
Upin sama siapa gitu lawannya, lupa namanya (sebut saja Udin). Upin looks ready
for the fight, since he keep standing and try to approach Udin. Udin, in the
other hand malah mud bath. Upin then strike the first hit to Udin and Udin
slowly run away from Upin. Upin keep chasing. This is happen for quite a while,
so people start to make a bid. Orang sebelahku taruhan Upin yang menang, dia
taruhan sama si bapak yang non-stop smoker aku ceritain di atas. They got a
deal with the price too, since the lose on will lose the money and the win one
will get double. Setelah mereka deal, I look away to my phone for a while. Eh
pas aku ngelihat hp, kok orang-orang pada teriak riuh gitu. Bahkan orang yang
heavy smoker di depan, beserta sama ibunya (yang juga bikin deal memihak Udin)
kok lompat-lompat seneng. Ternyata si Udin fight back and at the end Upin is
the one who run away and ut from the arena at the first time. Wuhuuu Udin wins,
so we learnt that, never underestimate your rival even he seems unskill because
doing the mud bath. Orang sebelahku melayang deh uangnya, sekitar 300 ribu
kayaknya.
| yang keluar arena duluan kalah |
Oia I have to mention this too, untuk memberi nama
buffalonya, pemilik/penjaga kerbau pake pilox gitu. Dari kejauhan jadinya
kelihatan kayak buffalo body painting gitu. Its creative you know. This is one
of the pic of the creative buffalo body painting to give them the name.
| salah satu buffalo body painting yang meriah |
22 Juli 2017
Its my second day here! Since its really not much
thing to do, I barely forget what I did this day. Okay so let’s move on to the
third day.
23 Juli 2017
Sehari-hari di rumah alm.nenek, kerjaan kita cuma
main hp tidur jajan ngemil. Awal-awal juga masihmales buat keluar rumah.
Sorenya, karena udah bosen juga di rumah terus, akhirnya aku pergi ke lantang
di Tobarana. Disitu juga sedang berlangsung acara pesta pemakaman salah satu
kenalan deketnya papa. Acara itu pretty much is the reason why we going back
home. Soalnya papa pas acara nya jadi terima tamu. Waktu aku turun ke tempat
akan berlangsungnya acara nantinya, itu waktu sore hari. Ternyata di bawah
sedang ada acara memindahkan makam nenek yang meninggal dari tempatnya di
Tongkonan di atas ke lumbung di bawah. Yang mindahin itu nggak cuma beberapa
orang, tapi ada banyak orang, jumlah yang way too much untuk task yang so
simple.
Ngelihat sekeliling, ternyata tuh lagi ada syuting
film disini (ntah film apa, yang jelas pasti coming soon). Ada banyak banget
crew-crew film, mulai dari sutradara, asistennya, orang yang angkat angkat
barang, terus yang meganging sound, yang bagian costum, dan masih banyak lagi
deh. Sekitar 20 orang lebih kayaknya. Bagian yang di syuting yang aku lihat,
itu setelah petinya dipindah ke bawah ke lumbung, ada adegan nangis sedih gitu
di sebelah petinya. Artis yang berperan itu ada Christina Hakim (sebenernya aku
nggak tau itu siapa, tapi ternyata emang dia itu artis lama). B ahkan katanya
ada Reza Rahardian juga, tapi aku nggak lihat pas dia ambil gambar, saudaraku
yang lihat. Sore itu, setelah orang-orang tipi nya selesai nyuting, ada acara
selanjutnya, which is Sabung Ayam.
![]() |
| ini orang yang syuting Ada Cristina Hakim |
Sabung Ayam, basically itu ayam di tandingin. Kalau
kerbau menang kalah base on who run away from the arena first, kalau sabung
ayam yang kalah adalah yang mati duluan. Jadi sebelum bertanding, di kaki
mereka itu di ikat pisau kecil panjang yang tajem. Setelah diikat pisaunya,
kedua ayam dipertemukan terus bergantian (masih dipegangin yang punya ayam) itu
saling ketemu gitu kepalanya, terus udah pengen matok aja si ayam. Setelah
gantian matok kepala lawan dengan dipegang yang punya, ayamnya di lepas and
there you go the chicken battle begin. Oia, sekali lagi, ajang ini juga
dijadikan untuk taruhan (again), mekanismenya sama. Orang yang berpihak sama
ayam A, harus cari orang yang mau berpihak sama ayam B, terus tentuin mau
taruhan berapa. Masa ada orang yang taruhannya 2 juta, terus dia menang, eh
uangnya kan 100 ribuan, dibagi-bagi ke cewek-cewek -_- ughh.
Okay enough for the sabung ayam, aku terus balik ke
atas, pulang ke rumah. Fyi, Sa’dan –Tobarana bisa dicapai dengan jalan kaki.
Jadi rumahnya di Sa’dan, jalan dikit ada turunan, nah begitu udah di bawah,
namanya udah Tobarana. Aku nggak tau itu emang begitu, atau mungkin rumah
alm.nenekku ada di ujung Sa’dan kali, jadi jalan dikit udah Tobarana. Jadi,
setelah selesai lihat sabung di Tobarana, akukan pulang jalan kaki sama adekku.
Kebetulan di depanku ada kayak crew film gitu jalan. Muncul deh ide iseng, aku
ngomong ke adekku pake bahasa Jawa dan suaraku agak tak kencengin “Muleh wes
ayo muleh ae lho!”. BINGO! Orangnya langsung noleh ke belakang, ngelihatin. Aku
kan jalan terus, sedangkan dia belok ke kiri. Dia udah berhenti jalan dan malah
ngelihatin, aku tetep jalan dan terus ngomong ke adekku pake bahasa Jawa. Dia
ngelihatin terus, kayak bingung gitu. Mungkin dia mikir “lho, kok ada yang ngomong
bahasa Jawa?”. Wkwkwk lucu aja, aku merasa berhasil ngisengin orang hehe. Thats
all for the rest of the day, moving on to the next day.
Its on the next post! Keep reading <3 <3 <3
For any question, businesses inquiry, feedback, or anything else, feel free to leave it in the comment below or send it to my email business.tiadominicha14@gmail.com
Its on the next post! Keep reading <3 <3 <3
For any question, businesses inquiry, feedback, or anything else, feel free to leave it in the comment below or send it to my email business.tiadominicha14@gmail.com
See more pic in my personal instagram account
tiadominicha14
and my travel gallery and for business thing, check out
tiadominicha14_fungallery
and my travel gallery and for business thing, check out
tiadominicha14_fungallery
Love and regards,
Tia Dominicha Ponglabba

